Suara Hati Sebelum Hari H Pernikahan

 



Hai teman-teman wanitaku, akhir-akhir ini awak media dan masyarakat sedang dihebohkan dengan satu kejadian yang tidak sedikit terjadi. Seperti yang teman-teman saksikan wanita ini bercerita tentang kegagalannya dalam menikah dengan sang kekasih. Ada banyak pemikiran kaum hawa dengan penjelasan si wanita itu, ada juga yang memberikan label sebagai wanita "matre". Namun bukan itu yang ingin saya bagikan dengan kalian. Saya ingin mengajak kita semua untuk memiliki pandangan lain di luar pemberitaan yang beredar.

Menikah merupakan tujuan akhir bagi mereka yang sudah siap untuk menggenggam semuanya berdua dengan pasangan. Pernikahan juga berarti menjalani kehidupan yang baru, tidak hanya dengan pasangan melainkan juga menggabungkan dua keluarga dalam sebuah ikatan. Sampai di sini teman-teman pasti paham apa itu pernikahan. Mengalami perubahan keyakinan antara pasangan bukanlah hal yang asing bagi saya. Ada juga yang bilang, keyakinan hati diuji saat menjelang pernikahan. Betul, saya setuju dengan itu, karena saya sering menemukan kejadian serupa di sekitar lingkungan. Berbagai alasan dan pemikiran yang membuat keyakinan masing-masing calon pengantin goyah.

Oleh sebab itu, ada baiknya untuk kita memantapkan hati sebelum menikah dengan pilihan kita. Ada banyak cara untuk menetapkan hati, percayakan apa yang teman-teman yakini, seperti meminta petunjuk dari Tuhan, atau mendiskusikan dengan orang tua, dan jalan lainnya. Jika teman-teman memperhatikan kasus yang sedang viral ini ada banyak hal mengganjal dari pembicaraan kedua keluarga tersebut. Tidak sedikit netizen yang pro dengan keluarga pria, ada juga yang kontra dengan pihak wanita. Sebagai penonton sebaiknya untuk tetap berada di garis tengah tanpa memihak A atau B, karena yang mengetahui kebenarannya hanya mereka dan Tuhan. Kita tidak pernah mengetahui mana yang benar dan salah, keduanya abu-abu dan kita tidak bisa berpihak di warna tersebut.

Jika teman-teman perhatikan, ada berbagai versi yang di klarifikasi oleh salah satu pihak. Bahkan setiap ganti media, pihak wanita menceritakan yang berbeda bahkan menambahkan cerita runyam dan berakibat fatal dengan masa depannya. Hal ini yang perlu kita perhatikan dan ambil hikmahnya dari kejadian viral antara kedua pihak. Apa saja yang bisa dipetik pelajarannya? Yaitu, gunakanlah sosial media dengan bijak dan tepat. Seperti yang kita semua ketahui, awal mula terjadinya kasus ini adalah salah satu pihak memposting video yang menginfokan bahwa dirinya gagal menikah. Membakar undangan, foto-foto mereka berdua dengan caption yang memancing penasaran netizen. Awalnya tidak sedikit netizen bertanya-tanya kenapa sih? Ada apa sih dengan dia? Itu serangkaian pertanyaan yang wajar kok. Jadi yang harusnya hanya mereka yang tahu malah semua orang se-Indonesia mengetahui kisah mereka. Ditambah lagi beberapa media yang gencar mengajak mereka untuk berdialog agar menemukan "titik terang".

Akan ada banyak pihak yang dirugikan, terutama pihak wanita. Karena dia sudah mengutarakan aibnya sendiri di muka public dan membeberkan semua yang seharusnya bisa dia simpan sendiri. Kemudian sebagai orang tua, mungkin bisa menggunakan kalimat yang tepat jika belum mengizinkan anaknya untuk menikah. Nah pelajaran nih bagi para bunda dan ayah di luar sana, yang sudah memiliki anak dengan usia mapan menikah tapi belum mampan finansial. Jika suatu hari ada orang yang datang melamar atau anak meminta menikah tanyakan apakah meraka siap dengan perjalanan pernikahan? Aapakah meraka memiliki fokus financial dalam menjalani pernikahan? Tidak ada salahnya untuk menanyakan hal tersebut kepada mereka. Bukannya ingin menakut-nakuti atau melarang untuk menikah, tapi memberikan arahan agar kehidupan mereka berada di jalur yang tepat. Sebagai orang tua pasti tidak ingin melihat perceraian di keluarga anak sendiri bukan? Namun jika mereka sudah yakin dengan keputusannya, berikan ultimatum apapun yang terjadi sudah menjadi tanggung jawab berdua dan tidak boleh melibatkan orang tua lagi.

Kemudian, sebagai orang tua ketika anak (perempuan) meminta untuk menikah namun kalian tidak mengizinkan karena belum lulus kuliah dan belum bekerja, jangan pernah membebankan mereka dengan finansial kalian. Dengan dalih dia sudah saya kuliahkan, saya juga ingin merasakan hasil kerjanya, adiknya juga masih ada yang sekolah. Lho bukannya itu menjebak anak untuk menjadi generasi roti lapis? Finansial orang tua ya orang tua sendiri yang harus mencarinya, bukan lagi anak menjadi mesin uang dengan ancaman membalikan bakti orang tua. Bukan seperti itu caranya. Jika dipikirkan kasihan juga dengan kehidupan si wanita itu, belum juga memiliki tabungan tapi sudah harus membiayai segudang finansial keluarga. Sudah gagal menikah karena keluarga, menjadi terbebani juga karena keluarga.

Melihat dari perspektif pihak pria yang sudah membayar semua persiapan pernikahan, mahar, hingga hadiah. Awalnya ibu si pria bilang kalo dia maunya DITANYA oleh pihak perempuan. Jika saya diposisi ibu si pria, saya tidak perlu nunggu untuk ditanya. Saya akan menyatakan tujuan saya ke rumah si wanita untuk melamar. Percuma juga sudah membawa perwakilan tapi pesannya tidak tersampaikan dengan tepat ke keluarga perempuan. Kemudian seharusnya tidak perlu terjadi adanya prewed, fitting baju, dan lainnya jika memang di awal keluarga perempuan menunjukan red flag ke keluarga pria. Untuk apa ditegaskan kembali hingga berkali-kali menyambangi rumahnya dengan kondisi sama-sama tidak paham. Jika pihak wanita memaksa untuk jalani aja deh semuanya, sebagai orang tua harusnya bisa menghentikannya. Bagaimana caranya? Coba sampaikan ke anak-anaknya kalau mereka berdua harus bisa meyakinkan orang tua pihak wanita. Jika pihak wanita ingin anaknya menikah dengan pria yang mapan, itu semua pemikiran lumrah terjadi. Sebagai seorang ibu tidak perlu tersinggung cukup dengan mengatakan kalau semoga selama menikah ada perubahan dari keduanya.

Kemudian kesalahan lainnya adalah komunikasi yang kurang jelas antara anak-anak dan orang tua. Sampai mahar pernikahan saja orang tua baru tahu pada saat sudah dibatalkan. Miris sekali rasanya tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak dengan baik. Padahal diawal sudah mengetahui anaknya dilamar oleh kekasihnya, hanya menanyakan yakin kamu dengan dia dan lainnya. Itu pertanyaan basic dan memang harus ditanyakan tapi juga harus tahu proses apa aja yang sudah terjadi. Ketika tahu anak sudah melakukan proses fitting baju dan prewed bisa di ungkapkan kalo Anda tidak menyetuji adanya pernikahan itu dengan alasan yang tepat dan logis.

Menurut opini saya, semua ini terjadi karena salah satu pihak keluarga memiiki masalah terpendam yang belum diselesaikan dengan baik. Sehingga tidak ada kecocokan antar keduanya dan ini merupakan masalah internal yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Bukan melalui pihak media, tapi secara intim antar keluarga biar tidak terjadi salah paham lagi di kemudian hari. Gimana menurut teman-teman semua?

Komentar